Lalu lintas dan kesadaran

Sebagai pengguna lalu lintas hal yang paling diinginkan oleh pengguna adalah tata tertib berlalu lintas. Mungkin dari segi sosial pertumbuhan jumlah kendaraan pasti akan terus meningkat, ya mungkin karena status ekonomi masyarakat sekarang yang sudah mulai meningkat dan ditambah dengan faktor-faktor lain dalam keputusan kenapa membeli kendaraan pribadi baik roda 2 maupun roda 4. Dengan pertumbuhan kendaraan pribadi yang meningkat, pertumbuhan kendaraan umum kayaknya seperti meningkat.

Kendaraan umum merupakan sarana sosial masyarakat kita dalam segala aktifitas, selain murah banyak rute yang ditempuh. Hal ini juga yang membuat kendaraan umum atau orang kota lebih kenal dengan “angkot” sangat dibutuhkan. Namun ini juga tidak bisa dipungkiri sebagai salah satu biang kerok terjadi kemacetan dijalan-jalan di kota2 besar di Indonesia.

Kebetulan saya seorang yang tinggal di kota Bandung. Bandung yang terkenal dengan sebutan Paris Van Java, bagi saya pribadi terkenal sebagi kota sejuta angkot, ya..karena menurut saya jumlah angkot di kota bandung sudah sangat banyak, belum lagi ditambah angkot yang melintas antar kota. Karena banyaknya angkot di Bandung ini, maka bisa saya katakan angkot juga sebagai salah satu faktor penentu kemacetan di kota Bandung. Kenapa?….

Kebetulan saya sering melalui jalan yaitu Jalan Setiabudi Bandung, karena saya berdomisili di daerah Parongpong, maka jalan Setiabudi merupakan jalan utama yang sering saya lalui. Di jalan ini juga ada terminal angkutan umum dalam kota yang disebut dengan Terminal Ledeng….kadang2 sebagai pengguna jalan tersebut saya yang mengendarai motor sering sekali dibuat kesal oleh tingkah pengmudi angkot yang seenaknya dan bisa dikatakan tidak mempunyai aturan…dalam pemikiran saya, mungkin yang dikejernya cuma duit, sehingga saya sering dalam hati berkata…”udah gak tau aturan mau mo ngejer setoran supaya kaya, gak bakal kaya deh kao orang gak tau aturan” Itu akibat saling kesalnya saya terhadap pengemudi angkot2 tersebut.

Jalan2 di Kota Bandung merupakan jalan sempit, sehingga biasanya hanya terdapat 4 jalur namun 4 jalur tersebut kadang tidak maksimal. pada jalan Setiabudi Bandung, ada sati titik yang disebut daerah panorama dimana terjadi “botol neck”. Karena jalan tersebut dari 4 jalir menjadi 2,5 jalur menurut saya. Tapi kadang2 angkot yang berenti disitu tidak tau aturan sudah tahu jalan sempit tetap saja berhenti di jalan sempit tersebut, akibatnya 2 jalur tersebut semakin sempit. Kalau angkot tersebut berhenti hanya sebentar masih untung, ini bisa berhenti lumayan lama dengan memanggil2 penumpang yang tidak mau naik angkotnya, dan dengan tanpa rasa bersalah sudah menimbulkan kemacetan. Kadang diperparah dengan angkot yang sampai berhenti di lapis kedua. Akhirnya jalan tersebut semakin sempit. Bahkan lebih parah adalah ada juga angkot yang seenaknya tanpa otak (mungkin supirnya sekolah pun gak kali ya…) menurunkan dan menaikkan penumpang ditengah jalan, akibatnya terjadi kemacetan luar biasa.

Ya mungkin sebagai sesama pengguna jalan. Kita bisa saling mengingatkan, dan mungkin juga ada upaya dari unsur terkait untuk mengatasi masalah kemacetan yang sebenarnya bukan semata2 masalah pertambahan jumlah kendaraan, tapi juga karena kesadaran berlalu lintas yang baik

~ by raymaulany07 on April 4, 2009.

Leave a Reply